Upacara tersebut menandai dimulainya penugasan kedua batalyon untuk mengamankan wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia di Kalimantan Barat, baik pada sektor barat maupun sektor timur. Penugasan ini merupakan bagian dari upaya TNI menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sekaligus mengantisipasi berbagai potensi ancaman di kawasan perbatasan.
Dalam amanatnya sebagai Panglima Komando Tugas Pengamanan Wilayah Perbatasan (Pangkogaspamwiltas) Darat, Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh personel Satgas Pamtas yang akan mengemban tugas negara di garis terdepan wilayah perbatasan.
Ia menegaskan bahwa operasi pengamanan perbatasan merupakan amanah sekaligus kehormatan yang diberikan negara kepada prajurit TNI, sehingga harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab, disiplin, dan profesionalisme.
"Tugas operasi pengamanan perbatasan merupakan kepercayaan dan kehormatan yang diberikan negara. Oleh karena itu, simbol Bendera Merah Putih di lengan kanan harus senantiasa dijaga sebagai garda terdepan dalam menjaga kedaulatan negara agar terhindar dari segala bentuk pelanggaran atau tindakan tidak terpuji," tegas Pangdam.
Menurutnya, tugas Satgas Pamtas tidak hanya berfokus pada pengamanan patok batas negara, tetapi juga mencakup pencegahan berbagai aktivitas ilegal yang berpotensi mengganggu stabilitas keamanan di wilayah perbatasan.
Di antaranya adalah penyelundupan barang terlarang, perlintasan ilegal, peredaran narkotika, hingga Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO). Selain menjalankan fungsi pengamanan, personel Satgas juga diharapkan mampu membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat melalui kegiatan pembinaan teritorial dan komunikasi sosial sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat perbatasan.
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, Pangdam menginstruksikan seluruh personel untuk meningkatkan pengawasan di jalur-jalur tidak resmi atau yang dikenal sebagai "jalur tikus", memperkuat deteksi dini terhadap berbagai bentuk pelanggaran lintas batas, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyelundupan narkotika dan perdagangan orang.
Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito juga mengungkapkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi di lapangan berdasarkan hasil evaluasi penugasan Satgas sebelumnya. Beberapa di antaranya meliputi keterbatasan alat pendeteksi narkotika, kondisi kendaraan operasional yang mulai mengalami penurunan fungsi, hingga minimnya akses jaringan komunikasi, listrik, dan air bersih di sejumlah pos perbatasan.
Meski demikian, ia meminta seluruh prajurit tetap menjalankan tugas dengan semangat, dedikasi, dan loyalitas tinggi kepada bangsa dan negara.
Dalam arahannya, Pangdam juga menekankan pentingnya memahami adat istiadat masyarakat setempat sebagai modal membangun hubungan yang baik dengan warga. Ia mengingatkan seluruh prajurit agar senantiasa berpegang teguh pada Sapta Marga, Sumpah Prajurit, dan Delapan Wajib TNI sebagai pedoman dalam setiap pelaksanaan tugas.
Selain itu, faktor keamanan personel maupun perlengkapan operasi juga menjadi perhatian utama. Pangdam meminta seluruh proses serah terima pos dilakukan secara menyeluruh agar pelaksanaan tugas berjalan optimal tanpa kendala berarti.
"Jaga keamanan personel maupun materiil yang kalian bawa, laksanakan serah terima pos dengan baik dan maksimal agar dalam melaksanakan tugas nanti tidak mengalami kendala yang berarti," tutup Mayjen TNI Novi Rubadi Sugito.
Melalui penugasan ini, Kodam XII/Tanjungpura berharap Satgas Pamtas RI–Malaysia mampu menjalankan tugas pengamanan wilayah perbatasan secara profesional, menjaga kedaulatan negara, menekan berbagai bentuk kejahatan lintas batas, serta memperkuat kemanunggalan TNI dengan masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI.[SK]
