Mempawah (Suara Sanggau) – Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) mendapat apresiasi dari Pemerintah Desa Sungai Nipah, Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah. Program tersebut dinilai memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, terutama dalam mendukung kebutuhan pengairan lahan pertanian.
Kepala Desa Sungai Nipah, Agus Surapati, mengatakan keberadaan program P3-TGAI sangat membantu pemerintah desa dalam meningkatkan infrastruktur pengairan yang dibutuhkan masyarakat.
Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang, termasuk program yang diperjuangkan anggota DPR RI Komisi V Dapil Kalbar, Lasarus, untuk mendukung pembangunan infrastruktur yang memberikan manfaat bagi masyarakat desa.
“Saya selaku Kepala Desa Sungai Nipah sangat mengapresiasi kegiatan P3-TGAI ini. Saya sangat terbantu dengan program ini. Semoga program-program ini, baik dari Pak Lasarus maupun yang lainnya, khususnya dari Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia Komisi V, terus membantu masyarakat, khususnya di desa saya,” ujar Agus.
P3-TGAI merupakan program yang mencakup rehabilitasi, peningkatan, dan pembangunan jaringan irigasi tersier atau jaringan irigasi desa. Pelaksanaannya dilakukan secara swakelola dan padat karya dengan melibatkan petani.
Di Desa Sungai Nipah, program tersebut diarahkan untuk mendukung sistem pengairan lahan pertanian masyarakat. Perbaikan jaringan irigasi diharapkan membuat aliran air menjadi lebih lancar sehingga dapat menunjang aktivitas pertanian warga.
Sebelumnya, pelaksanaan pekerjaan tersebut sempat menjadi sorotan dalam pemberitaan sejumlah media. Salah satu hal yang disorot berkaitan dengan dugaan tidak adanya lantai kerja pada pekerjaan irigasi.
Menanggapi informasi tersebut, Ketua Kelompok Parateh Mandiri sekaligus Ketua RT setempat, Andri Alian, memberikan klarifikasi. Ia menjelaskan, saat salah satu media mengambil gambar, pekerjaan memang masih dalam tahap pengerjaan sehingga kondisi yang terlihat belum menggambarkan hasil pekerjaan secara keseluruhan.
Menurut Andri, setelah pekerjaan dilanjutkan, lantai kerja telah dibuat dan keberadaannya juga telah dilakukan pengecekan oleh pihak balai.
“Saya pastikan itu tidak benar dan menyesatkan. Saat salah satu media datang, pekerjaan memang masih dalam proses. Sekarang sesuai dengan kondisi di lapangan, lantai kerja sudah kami kerjakan dan sudah ada. Kemarin juga sudah dicek oleh pihak balai,” ungkap Andri.
Andri juga membantah adanya sejumlah foto atau bagian pekerjaan yang disebut sebagai hasil pekerjaan Kelompok Parateh Mandiri. Ia menyebut terdapat pekerjaan yang ditampilkan dalam pemberitaan, namun menurutnya bukan merupakan bagian dari pekerjaan kelompok yang dipimpinnya.
“Kami juga membantah terkait foto atau gambar pekerjaan yang disebut sebagai pekerjaan saya selaku Ketua Parateh Mandiri. Ada beberapa pekerjaan yang diselipkan, dan itu bukan pekerjaan kelompok kami. Saya tidak tahu itu kelompok mana,” katanya.
Terkait dugaan penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau AI pada sejumlah foto yang beredar, Andri menyebut hal tersebut sebagai dugaan yang masih perlu dibuktikan. Ia berharap setiap pemberitaan mengenai pembangunan di desa mengacu pada kondisi faktual di lapangan.
“Saya juga mencurigai foto-fotonya menggunakan AI. Tetapi yang jelas, kami berharap pemberitaan bisa berdasarkan kondisi yang sebenarnya di lapangan,” ujarnya.
Agus Surapati menegaskan, pihak desa tidak mempersoalkan kritik maupun pemberitaan mengenai pelaksanaan program. Menurutnya, kritik merupakan bagian dari demokrasi dan dapat menjadi bahan evaluasi.
Namun, ia menilai klarifikasi perlu diberikan apabila informasi yang beredar dinilai tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya.
“Mengenai kegiatan kemarin ada pemberitaan, saya rasa itu hal yang biasa. Ini demokrasi. Cuma sekiranya berita-berita tersebut memang tidak sesuai dengan fakta di lapangan, maka juga patut kita klarifikasi,” kata Agus.
Agus mengatakan dirinya turun langsung ke lokasi setelah pemberitaan mengenai pekerjaan tersebut ramai diperbincangkan. Ia melakukan pengecekan bersama pihak balai, kelompok penerima manfaat, serta pendamping kegiatan.
“Saya setelah berita itu viral turun ke lapangan, mendampingi pihak balai dan TPM, pendamping dari kegiatan tersebut. Kami mengecek langsung dan alhamdulillah kegiatan tersebut sudah sesuai dengan spek atau gambar yang ada, sesuai dengan aturan yang berlaku,” jelasnya.
Menurut Agus, pengecekan langsung tersebut dilakukan untuk memastikan pekerjaan yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan spesifikasi program.
Selain memberikan manfaat terhadap sistem pengairan, pelaksanaan P3-TGAI juga dinilai memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Pasalnya, pengerjaan program melibatkan warga setempat, khususnya para petani.
“Program ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pelaksana-pelaksana atau pekerjanya sebagian besar adalah petani-petani kita,” katanya.
Pola pengerjaan secara swakelola dan padat karya membuat masyarakat tidak hanya memperoleh manfaat dari pembangunan jaringan irigasi, tetapi juga mendapatkan kesempatan bekerja selama proses pelaksanaan kegiatan.
“Secara tidak langsung program ini juga membuka lapangan pekerjaan bagi warga-warga saya,” tambah Agus.
Andri Alian juga menilai keberadaan program tersebut memberikan perubahan terhadap kondisi pengairan lahan pertanian. Sebelum dilakukan peningkatan jaringan irigasi, sejumlah parit di kawasan tersebut dinilai tidak berfungsi maksimal sehingga aliran air menuju lahan pertanian kurang lancar.
“Yang jelas kelompok ini atau program ini sangat membantu petani padi, petani kelapa, dan masyarakat yang menanam sayur. Parit yang semula mati dan aliran airnya tidak berjalan, sekarang kami pasang irigasi sehingga air yang sebelumnya tidak lancar menjadi lancar,” ujarnya.
Agus berharap program P3-TGAI dapat kembali dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya karena manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Saya harapkan tetap berlanjut di tahun-tahun ke depan karena program ini sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ucapnya.
Ia juga mengakui bahwa setiap pelaksanaan kegiatan pembangunan tentu tidak terlepas dari kekurangan. Karena itu, evaluasi tetap diperlukan agar kualitas pekerjaan pada masa mendatang semakin baik.
“Plus minus itu biasa. Kekurangan tentu tetap ada, namun kekurangan itu tetap kita jadikan perbaikan untuk ke depannya,” pungkas Agus.[SK]
