Melawi (Suara Sanggau) – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, terus mendapat penanganan intensif di tengah kondisi kemarau ekstrem. Hingga 26 Agustus 2026, luas area yang terbakar tercatat mencapai 1.539,35 hektare dengan ribuan titik panas terdeteksi di sejumlah wilayah..jpeg)
Karhutla Melawi dalam Kondisi Darurat, Pemadaman Diperkuat di Sejumlah Wilayah.SUARASANGGAU/SK
PT Rafi Kamajaya Abadi (RKA) bersama Pemerintah Kabupaten Melawi dan berbagai stakeholder terus mengerahkan sumber daya untuk mengendalikan api agar tidak semakin meluas.
General Manager Operasional PT RKA Kabupaten Melawi, Syed Mohd Norhisham, mengatakan tim tanggap kebakaran perusahaan masih melakukan pemadaman bersama instansi terkait di sejumlah area yang terdampak.
Menurut Hisham, kondisi cuaca ekstrem dan fenomena El Nino menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Lahan yang sangat kering membuat api lebih sulit dikendalikan dan meningkatkan potensi penyebaran kebakaran.
“Anggota tanggap kebakaran kami bersama stakeholder terkait masih terus melakukan upaya pemadaman. Di samping upaya secara fisik, kami juga melakukan doa memohon hujan sebagai ikhtiar spiritual selain upaya lahiriah berupa pemadaman,” ujar Hisham, Kamis (27/8/2026).
Hisham mengakui, hingga kini masih terdapat kepulan asap dan sejumlah titik api di beberapa area perusahaan yang belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Keterbatasan sumber daya manusia maupun peralatan operasional menjadi salah satu kendala yang dihadapi petugas dalam melakukan pengendalian api di lapangan.
Meski demikian, PT RKA bersama BPBD, TNI, Polri, Manggala Agni dan komunitas relawan terus melakukan pemadaman dan pengendalian untuk mencegah api menjalar ke wilayah lainnya.
“Hingga saat ini upaya pemadaman masih terus dilakukan bersama instansi dan stakeholder terkait,” katanya.
Selain pemadaman, PT RKA melakukan langkah antisipasi untuk membatasi penyebaran api, terutama di wilayah Desa Nanga Kayan.
Perusahaan membangun sejumlah sekat bakar dengan mengerahkan enam unit ekskavator yang didatangkan dari luar, termasuk alat berat milik PT RKA.
Pembuatan sekat bakar tersebut dilakukan untuk memutus jalur penyebaran api dan memperkecil risiko kebakaran meluas ke area lainnya.
“Sekat-sekat api telah dibuat untuk meminimalkan potensi penyebaran api, khususnya di wilayah Desa Nanga Kayan,” jelas Hisham.
Sementara itu, luas areal yang terdampak kebakaran di wilayah operasional PT RKA masih dalam proses pendataan oleh tim Geographic Information System (GIS) perusahaan.
Khusus wilayah Desa Nanga Kayan, Hisham memperkirakan luas areal terdampak mencapai sekitar 662 hektare. Luasan tersebut mencakup areal desa maupun kawasan perusahaan.
Di sisi lain, BPBD Kabupaten Melawi mencatat tingginya intensitas Karhutla sepanjang musim kemarau 2026.
Berdasarkan laporan resmi penanganan Karhutla per 26 Agustus 2026, terdapat 28 kejadian dengan estimasi total luas area terbakar mencapai 1.539,35 hektare.
Selain itu, sebanyak 2.364 titik panas atau hotspot terdeteksi tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Melawi.
Tingginya dampak Karhutla tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten Melawi menetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Asap.
Kepala BPBD Kabupaten Melawi, Daniel, mengatakan kondisi di lapangan masih menjadi tantangan karena terdapat sejumlah titik api yang belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.
Beberapa lokasi yang masih menjadi perhatian petugas di antaranya Desa Nanga Kayan, Kecamatan Nanga Pinoh, dan Desa Batu Nanta, Kecamatan Belimbing.
Berdasarkan data sebaran Karhutla, Kecamatan Nanga Pinoh menjadi wilayah dengan jumlah kejadian sekaligus luas area terdampak terbesar. Tercatat 22 lokasi dengan total luas area terbakar mencapai 702,55 hektare.
Kecamatan Belimbing berada di posisi berikutnya dengan luas area terdampak sekitar 408 hektare.
Sejumlah desa tercatat mengalami kebakaran dengan luasan cukup besar. Desa Nanga Kayan mencapai sekitar 523 hektare, Desa Beloyang, Kecamatan Belimbing Hulu, sekitar 200 hektare, sedangkan Desa Batu Nanta mencapai 176 hektare.
“Untuk mencegah meluasnya dampak bencana asap, BPBD Kabupaten Melawi bersama Satuan Tugas (Satgas) Gabungan yang melibatkan TNI/Polri, relawan, dan masyarakat terus mengintensifkan upaya penanggulangan karhutla,” ujar Daniel, Kamis (27/8/2026).
Daniel mengatakan penanganan Karhutla dilakukan melalui berbagai langkah, mulai dari patroli rutin di wilayah rawan, respons cepat terhadap titik api, penguatan koordinasi lintas sektor hingga penyisiran pascapemadaman atau mopping up.
Penyisiran dilakukan untuk memastikan bara maupun titik api yang masih tersisa tidak kembali menyala dan memicu kebakaran baru.
Di tengah kemarau yang masih berlangsung, kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, TNI/Polri, relawan dan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengendalikan Karhutla di Melawi.
PT RKA memastikan akan terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh stakeholder untuk mempercepat pemadaman sekaligus membatasi penyebaran api di wilayah terdampak.
Upaya terpadu tersebut diharapkan mampu menekan meluasnya kebakaran serta mengurangi dampak bencana asap terhadap masyarakat Kabupaten Melawi.[SK]