| Kabut asap pekat menyelimuti Bandara Rahadi Oesman Ketapang, jarak pandang 50 meter, Kamis (24/9/2026) pagi.SUARASANGGAU/SK |
Ketapang (Suara Sanggau) – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengganggu aktivitas penerbangan di Bandara Rahadi Oesman Ketapang, Kalimantan Barat. Jarak pandang di kawasan bandara pada Kamis (24/9/2026) pagi hanya mencapai sekitar 50 meter.
Kondisi tersebut menyebabkan penerbangan rute Ketapang-Pontianak dan sebaliknya terganggu selama lebih dari sepekan. Rendahnya jarak pandang menjadi salah satu kendala utama bagi pesawat untuk melakukan penerbangan dengan aman.
Kepala Kantor Unit Penyelenggara Bandar Udara (UPBU) Kelas II Rahadi Oesman Ketapang, Dwi Muji Raharjo, mengatakan gangguan penerbangan terjadi akibat kondisi jarak pandang yang tidak memenuhi ketentuan operasional.
“Sudah lebih sepekan penerbangan dari dan ke Pontianak batal,” kata Dwi saat dikonfirmasi Suara Ketapang.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi kabut asap karhutla yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Ketapang.
Dwi menjelaskan, gangguan penerbangan mulai terasa sejak awal September 2026. Sejak 2 September, kondisi cuaca dan jarak pandang mulai berdampak terhadap aktivitas penerbangan di Bandara Rahadi Oesman.
Meski rute Ketapang-Pontianak mengalami gangguan, penerbangan dari Ketapang menuju Jakarta masih tetap beroperasi.
“Meski rute Ketapang-Pontianak terganggu, penerbangan Ketapang-Jakarta masih beroperasi,” ujarnya.
Dwi mengatakan kondisi jarak pandang pada jalur penerbangan menuju Jakarta masih memungkinkan pesawat untuk beroperasi. Saat ini, penerbangan Ketapang-Jakarta dilayani satu kali perjalanan pulang-pergi setiap hari.
Namun, jadwal keberangkatan dapat mengalami perubahan apabila kondisi jarak pandang belum memungkinkan.
“Sesuai jadwal penerbangan ke Jakarta pagi, karena faktor jarak pandang, sore baru bisa terbang,” ujar Dwi.
Ia menegaskan, penerbangan dari dan menuju Ketapang dapat kembali dilakukan apabila kondisi jarak pandang telah memenuhi ketentuan keselamatan penerbangan.
Sementara itu, Kabupaten Ketapang masih menghadapi kemarau ekstrem yang berlangsung hampir tiga bulan tanpa hujan. Kondisi kering tersebut turut meningkatkan risiko terjadinya karhutla di sejumlah wilayah.
Asap dari karhutla kemudian menyelimuti sejumlah kawasan, termasuk di sekitar Bandara Rahadi Oesman.
Jarak pandang sekitar 50 meter yang tercatat pada Kamis pagi menjadi salah satu kondisi terburuk yang terjadi sejak karhutla dan kemarau ekstrem melanda Kabupaten Ketapang sepanjang tahun ini.
Gangguan tersebut tidak hanya berdampak terhadap aktivitas penerbangan, tetapi juga berpotensi menghambat mobilitas masyarakat yang mengandalkan transportasi udara untuk bepergian dari dan menuju Ketapang.[SK]