Melawi (Suara Sanggau) – Kualitas udara di Kabupaten Melawi, Kalimantan Barat, mulai mengkhawatirkan menyusul masih terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah..jpeg)
Foto udara , kondisi kabut asap dari karhutla masih terlihat jelas di daerah batu buil kecamatan belimbing kabupaten Melawi.SUARASANGGAU/SK
Asap dari kebakaran yang terjadi di dalam wilayah Melawi maupun asap kiriman dari daerah lain turut memengaruhi kondisi udara. Situasi tersebut semakin menjadi perhatian karena titik api masih terdeteksi di sejumlah wilayah Pulau Kalimantan.
Kepala Bidang Kedaruratan Bencana dan Logistik BPBD Kabupaten Melawi, Rahmad Maulidin, mengatakan kualitas udara di sejumlah wilayah Melawi saat ini berada pada kategori kurang baik hingga tidak sehat.
Menurutnya, kondisi tersebut sejalan dengan meningkatnya laporan gangguan kesehatan masyarakat, terutama kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
“Kalau melihat kondisi saat ini, kualitas udara di Kabupaten Melawi sudah kurang baik atau bahkan tidak sehat. Ini juga bisa kita lihat dari data Dinas Kesehatan Kabupaten Melawi yang mencatat sudah dua ribuan lebih kasus ISPA yang dilaporkan masyarakat hingga Agustus 2026,” ungkap Rahmad.
Ia mengatakan tingginya kasus ISPA menjadi perhatian serius pemerintah daerah, terlebih aktivitas karhutla masih ditemukan di sejumlah lokasi.
Berdasarkan pemantauan BPBD Melawi, titik api dan kepulan asap masih terlihat di Kecamatan Belimbing, khususnya kawasan Bukit Matok.
“Dari hasil pengamatan kami di Kecamatan Belimbing, khususnya Bukit Matok, masih terlihat banyak titik api dan asap yang mengepul. Ini menunjukkan bahwa dampak asap akibat karhutla masih sangat mengkhawatirkan,” jelasnya.
Rahmad menegaskan, persoalan karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat mengancam kesehatan masyarakat. Paparan asap dalam waktu lama berpotensi meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lanjut usia serta masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Karena itu, BPBD Kabupaten Melawi mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menjaga kesehatan selama kualitas udara masih dipengaruhi asap karhutla.
Warga yang harus bepergian atau melakukan aktivitas di luar rumah diminta menggunakan masker untuk mengurangi paparan asap. Masyarakat juga dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kondisi udara semakin memburuk.
“Kami mengimbau masyarakat, terutama ketika keluar rumah atau bepergian, agar menggunakan masker. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak, sebaiknya kurangi aktivitas di luar rumah saat kondisi asap cukup pekat,” imbaunya.
Selain perlindungan kesehatan, BPBD Melawi kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Kondisi cuaca yang kering membuat lahan dan vegetasi lebih mudah terbakar. Api yang awalnya kecil dapat dengan cepat merambat dan sulit dikendalikan apabila tidak segera ditangani.
Rahmad berharap kesadaran masyarakat untuk mencegah munculnya titik api baru semakin meningkat. Menurutnya, penanggulangan karhutla tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah, petugas pemadam, maupun aparat, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat.
“Yang paling penting saat ini adalah kita bersama-sama mencegah munculnya titik api baru. Jangan membakar lahan sembarangan karena kondisi saat ini sangat kering dan api bisa dengan cepat meluas,” pungkasnya.
BPBD Melawi juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap mencurigakan agar dapat ditangani sedini mungkin. Kecepatan informasi dari masyarakat dinilai penting untuk mencegah kebakaran berkembang semakin luas dan memperburuk kualitas udara di Kabupaten Melawi.[SK]