![]() |
Menurut Edi, kondisi cuaca yang mulai menunjukkan penurunan intensitas hujan harus menjadi perhatian bersama karena berpotensi memengaruhi ketersediaan air baku bagi Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa Kota Pontianak. Oleh sebab itu, masyarakat diminta menggunakan air secara bijak dan menyiapkan cadangan air di rumah masing-masing.
“Beberapa hari terakhir curah hujan sudah sangat rendah. Kami mengimbau masyarakat menghemat penggunaan air bersih. Bagi yang memiliki bak penampungan air, sebaiknya dimanfaatkan sebagai cadangan untuk menghadapi musim kemarau,” ujar Edi, Rabu (15/7/2026).
Ia menjelaskan, apabila musim kemarau berlangsung lebih dari tiga pekan tanpa hujan, debit air Sungai Kapuas berpotensi mengalami penurunan signifikan. Kondisi tersebut dapat memicu intrusi air laut saat pasang sehingga kadar garam di sungai meningkat.
Padahal, Sungai Kapuas selama ini menjadi sumber utama air baku bagi PDAM Tirta Khatulistiwa dalam memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat Kota Pontianak. Jika kadar garam meningkat melampaui batas yang ditentukan, kualitas air yang diproduksi dan didistribusikan kepada pelanggan dapat terganggu.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemerintah Kota Pontianak telah menyiapkan sumber air baku alternatif melalui intake Penepat yang akan dioperasikan apabila terjadi intrusi air laut dalam skala besar.
“Air dari Penepat akan dicampurkan dengan air Sungai Kapuas agar kadar garamnya tidak terlalu tinggi. Langkah ini memang disiapkan khusus apabila terjadi kemarau panjang,” jelasnya.
Edi mengungkapkan, berdasarkan prakiraan BMKG, potensi kemarau tahun ini diperkirakan lebih berat dibandingkan beberapa tahun terakhir. Fenomena El Nino yang diprediksi terjadi berpotensi memperpanjang durasi musim kemarau dan meningkatkan risiko intrusi air laut ke Sungai Kapuas.
Ia menerangkan bahwa penyediaan air baku merupakan kewenangan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai Kalimantan I. Saat ini Kota Pontianak telah memiliki intake Penepat yang berada di lahan milik PDAM seluas sekitar sembilan hektare sebagai cadangan sumber air tawar ketika intrusi air laut terjadi.
Namun, pemanfaatan intake tersebut membutuhkan biaya operasional yang cukup besar. Air harus dipompa menggunakan lima unit pompa dengan jarak sekitar 21 kilometer menuju Instalasi Pengolahan Air (IPA) Imam Bonjol, sementara kapasitas produksi yang dihasilkan hanya sekitar 500 liter per detik.
“Produksi air bersih kita mencapai sekitar 1.250 liter per detik untuk melayani sekitar 90,6 persen masyarakat Kota Pontianak. Karena itu, kami terus meminta perhatian pemerintah pusat agar kebutuhan air baku Kota Pontianak dapat dipenuhi,” katanya.
Selain fokus pada ketersediaan air bersih, Pemerintah Kota Pontianak juga mengingatkan masyarakat untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau. Cuaca panas dan kualitas udara yang berpotensi menurun akibat kabut asap menjadi perhatian serius pemerintah daerah.
Edi mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat suhu udara meningkat serta menggunakan masker apabila terjadi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Masyarakat yang memiliki riwayat ISPA maupun asma harus lebih berhati-hati. Kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker apabila kualitas udara memburuk,” pesannya.
Sebagai langkah mitigasi menghadapi musim kemarau, Pemkot Pontianak juga telah membentuk tim khusus dan menyiapkan berbagai upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah yang selama ini masuk kategori rawan karhutla seperti Pontianak Utara, Pontianak Selatan, dan Pontianak Tenggara.
Edi berharap musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu lama sehingga pelayanan air bersih kepada masyarakat tetap berjalan optimal dan aktivitas warga tidak terganggu.
“Mudah-mudahan musim kemarau tahun ini tidak berlangsung terlalu lama sehingga pelayanan air bersih tetap berjalan optimal dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa kendala berarti,” pungkasnya.[SK]
