.jpg)
Sekda Kalbar, Harisson, menyoroti kejanggalan penilaian pada LCC Empat Pilar MPR RI di Kalbar.'SUARASANGGAU/SK
Pontianak (Suara Sanggau) – Polemik hasil Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat yang tengah viral di media sosial terus menjadi perhatian publik. Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, dr. Harisson, M.Kes., turut menanggapi keputusan dewan juri yang menuai kritik dari berbagai pihak.
Tanggapan tersebut disampaikan Harisson melalui kolom komentar pada unggahan akun Instagram @smansapnk_ terkait polemik hasil perlombaan LCC Empat Pilar MPR RI.
Dalam komentarnya, Harisson menilai pelaksanaan lomba seharusnya dilengkapi dengan alat perekam digital untuk memudahkan proses evaluasi apabila terjadi protes maupun perbedaan penilaian saat perlombaan berlangsung.
“Seharusnya MPR mempunyai alat perekam digital untuk memutar ulang saat pertandingan berlangsung, terutama saat terjadi protes seperti saat ini atau ketika dewan juri sedang tidak berkonsentrasi,” tulisnya.
Saat ditemui awak media pada Senin (11/5/2026), Harisson kembali menyoroti adanya dugaan kejanggalan dalam proses penilaian lomba. Menurutnya, dewan juri terlihat terlalu bergantung pada teks jawaban yang tersedia di perangkat penilaian.
“Juri itu terkesan tidak paham dengan materi yang ditanyakan. Sehingga dia harus membaca jawaban yang ada di tab-nya, lalu berusaha menyandingkannya dengan jawaban anak-anak. Di situ bisa terjadi salah paham,” ujarnya.
Harisson menilai seorang juri semestinya memiliki penguasaan materi yang baik sehingga mampu memahami substansi jawaban peserta tanpa harus terpaku pada catatan atau perangkat digital.
“Kalau kita sudah paham materi yang ditanyakan, tidak perlu melihat tab. Cukup dengar jawaban peserta, kita sudah bisa menilai substansinya benar atau tidak,” tegasnya.
Selain itu, ia juga menyoroti bahasa tubuh dan ekspresi dewan juri selama proses penilaian berlangsung. Menurutnya, keraguan yang terlihat dari para juri berpotensi memengaruhi objektivitas dalam menentukan hasil perlombaan.
Lebih lanjut, Harisson menekankan pentingnya menjaga rasa keadilan bagi seluruh peserta, khususnya siswa SMA Negeri 1 Pontianak (SMANSA) yang ikut dalam kompetisi tersebut. Ia berharap proses evaluasi dilakukan secara profesional dan transparan agar tidak meninggalkan kesan ketidakadilan bagi para siswa.
“Saya minta ada rasa keadilan yang harus diterima oleh anak-anak SMANSA. Jangan biarkan rasa ketidakadilan itu membekas di diri mereka,” pungkasnya.
Polemik hasil LCC Empat Pilar MPR RI ini hingga kini masih menjadi perbincangan hangat di media sosial. Banyak pihak berharap penyelenggara dapat memberikan klarifikasi serta evaluasi menyeluruh guna menjaga integritas kompetisi dan kepercayaan peserta terhadap proses penilaian.(SK)