Kayong Utara (Suara Sanggau) – Bagi anak-anak di Desa Pelapis, Kecamatan Kepulauan Karimata, perjalanan menuju sekolah bukanlah rutinitas yang mudah. Sebagian dari mereka harus menempuh perjalanan laut menggunakan kapal setiap hari, bahkan kondisi cuaca kerap menjadi penentu apakah mereka dapat mengikuti pelajaran di kelas atau tidak.
Menembus Batas Kepulauan, Anak-anak Pelapis Belajar Bahasa Inggris Demi Masa Depan.SUARASANGGAU/SK
Berada di gugusan Kepulauan Karimata, Kabupaten Kayong Utara, Desa Pelapis memiliki keterbatasan akses terhadap berbagai fasilitas pendidikan penunjang. Berbeda dengan wilayah perkotaan yang menawarkan beragam kursus dan kegiatan pengembangan keterampilan, siswa di desa pesisir ini umumnya hanya mengandalkan sekolah sebagai satu-satunya ruang belajar formal.
Kondisi tersebut turut dirasakan SMP Negeri 3 Kepulauan Karimata yang saat ini memiliki sekitar 37 siswa dari kelas VII hingga IX. Meski Bahasa Inggris telah menjadi bagian dari kurikulum pembelajaran, proses penguasaan bahasa asing itu masih menghadapi berbagai tantangan.
“Kalau menurut saya, kemampuan bahasa asing siswa di sini memang agak kurang,” ungkap Doni, guru SMPN 3 Kepulauan Karimata.
Menurutnya, keterbatasan akses pembelajaran tambahan membuat siswa minim kesempatan untuk mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggris di luar lingkungan sekolah.
“Kami berharap dengan adanya program dari perusahaan ini bisa membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam berbahasa asing,” tambahnya.
Seiring berkembangnya aktivitas industri di kawasan sekitar Kepulauan Karimata, kemampuan berbahasa Inggris kini semakin relevan bagi generasi muda setempat. Namun, minimnya ruang praktik dan terbatasnya sarana pembelajaran membuat banyak siswa masih mengalami kesulitan dalam percakapan dasar maupun pelafalan.
Meski demikian, para guru melihat potensi besar yang dimiliki siswa-siswi Desa Pelapis. Mereka dikenal memiliki rasa ingin tahu tinggi dan kemampuan belajar yang cepat. Tantangan terbesar yang dihadapi justru terletak pada aspek kepercayaan diri saat berkomunikasi menggunakan bahasa asing.
Melihat kondisi tersebut, PT Dharma Inti Bersama (DIB) bersama Kawasan Industri Pulau Penebang (KIPP) menghadirkan program DIB Mengajar sebagai bagian dari komitmen tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Program yang dilaksanakan di SMPN 3 Kepulauan Karimata itu menghadirkan kelas tambahan Bahasa Inggris dengan melibatkan relawan dari internal perusahaan. Tidak hanya tim CSR, sejumlah karyawan dari berbagai departemen juga turut berpartisipasi sebagai pendamping belajar.
Pembelajaran dirancang dengan metode yang lebih interaktif dan menyenangkan. Para siswa diajak belajar melalui permainan kosakata, percakapan sederhana, hingga latihan memperkenalkan diri dalam bahasa Inggris.
Pada tahap awal, materi difokuskan pada greetings dan introductions guna membangun keberanian siswa untuk berbicara. Meski awalnya banyak siswa terlihat malu dan menjawab dengan suara pelan karena takut melakukan kesalahan, suasana kelas perlahan berubah menjadi lebih hidup.
Anak-anak yang semula pasif mulai berani mengangkat tangan, menjawab pertanyaan, bahkan tampil di depan kelas untuk mempraktikkan percakapan sederhana bersama teman-temannya.
Bagi perusahaan, pendidikan merupakan investasi sosial jangka panjang yang penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia di sekitar wilayah operasional. Karena itu, kontribusi yang diberikan tidak hanya terbatas pada kegiatan belajar mengajar.
External Relations Manager Kawasan Industri Pulau Penebang, Sugeng Sulistiyo, mengatakan perusahaan juga menjalankan berbagai program pendidikan lainnya di Desa Pelapis.
Program tersebut antara lain berupa pemberian beasiswa penuh bagi siswa sekolah menengah atas dan mahasiswa asal Desa Pelapis, serta dukungan insentif bagi guru Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).
“Melalui program-program CSR ini, perusahaan berharap dapat berkontribusi dalam menciptakan sumber daya manusia Kayong Utara yang lebih kompetitif sekaligus membuka peluang pendidikan yang lebih baik bagi generasi muda di wilayah kepulauan,” ujar Sugeng.
Di tengah pesatnya perkembangan kawasan industri di Pulau Penebang, pendidikan menjadi salah satu jembatan penting agar masyarakat lokal dapat tumbuh dan berkembang bersama perubahan yang terjadi.
Dari ruang kelas sederhana di Desa Pelapis, keberanian anak-anak untuk mengucapkan kata-kata pertama dalam Bahasa Inggris hari ini mungkin terlihat sebagai langkah kecil. Namun, langkah kecil itu berpotensi menjadi awal perjalanan besar menuju masa depan yang lebih cerah bagi generasi muda Kepulauan Karimata.[SK]