Banjir Rendam Tiga Kecamatan di Sekadau, Lebih dari 9.200 Jiwa Terdampak

Editor: Admin

 

Pengantin baru saat menuju gereja harus diantar tim BPBD dan Basarna. SUARASANGGAU/SK
Sekadau (Suara Sanggau) – Bencana banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat. Hujan lebat hingga sangat lebat yang mengguyur sejak Rabu (7/1/2026) malam hingga dini hari menyebabkan Sungai Sekadau meluap dan merendam permukiman warga di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Nanga Taman, Nanga Mahap, dan Sekadau Hulu.

Berdasarkan laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sekadau, banjir mulai terjadi pada Kamis (8/1/2026) sekitar pukul 03.00 WIB dan masih berlangsung hingga Jumat (9/1/2026). Tingginya debit air kiriman dari daerah hulu, khususnya Kecamatan Nanga Taman dan Nanga Mahap, memperparah kondisi banjir di Kecamatan Sekadau Hulu.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sekadau, Heri Handoko Susilo, menyampaikan bahwa hingga Jumat siang pukul 12.00 WIB, jumlah warga terdampak mencapai 2.536 Kepala Keluarga (KK) atau sekitar 9.202 jiwa.

“Curah hujan yang tinggi dengan durasi cukup lama mengakibatkan Sungai Sekadau meluap. Selain itu, adanya kiriman air dari daerah hulu membuat beberapa wilayah mengalami peningkatan tinggi genangan,” ujar Heri dalam laporan tertulisnya.

Di Kecamatan Nanga Taman, banjir berdampak pada 1.100 KK atau 3.688 jiwa yang tersebar di Desa Nanga Taman, Senangak, Nanga Kiungkang, dan Nanga Mentukak. Sementara itu, di Kecamatan Nanga Mahap, banjir merendam Desa Lembah Beringin dengan jumlah terdampak sebanyak 50 KK atau 400 jiwa.

Wilayah terparah tercatat di Kecamatan Sekadau Hulu dengan jumlah terdampak mencapai 1.386 KK atau 5.114 jiwa. Desa Rawak Hulu dan Rawak Hilir menjadi kawasan dengan jumlah warga terdampak terbanyak akibat luapan Sungai Sekadau.

BPBD Kabupaten Sekadau bersama tim gabungan yang melibatkan unsur TNI, Polri, Basarnas, organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, pihak kecamatan, serta pemerintah desa terus melakukan berbagai upaya penanganan. Langkah tersebut meliputi koordinasi lintas instansi, penurunan personel ke lokasi terdampak, monitoring dan patroli, evakuasi warga, hingga pendataan dan dokumentasi wilayah terdampak banjir.

“Kami terus mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, terutama jika terjadi kenaikan tinggi muka air secara tiba-tiba,” tambah Heri.

Saat ini, kondisi banjir di sejumlah desa mulai menunjukkan tanda-tanda surut dengan rata-rata penurunan sekitar 50 sentimeter. Namun, di beberapa wilayah lainnya tinggi air masih cenderung meningkat akibat kiriman air dari daerah hulu. Ketinggian air dilaporkan bervariasi antara 0,5 hingga 2 meter.

Bencana banjir tersebut mengakibatkan aktivitas masyarakat terganggu, ribuan rumah terendam, akses transportasi antar desa terputus, serta kerusakan pada jalan, jembatan, dan fasilitas umum. Sebagian warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat atau lokasi yang lebih aman, sementara sebagian lainnya memilih bertahan di rumah masing-masing.

BPBD Kabupaten Sekadau merekomendasikan percepatan penetapan status darurat bencana, penguatan koordinasi antarinstansi, penambahan personel di lapangan, serta kesiapan peralatan dan logistik guna mendukung penanganan bencana secara optimal.

Laporan dan data ini dihimpun dari Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Sekadau, kecamatan terdampak, Polsek dan Koramil setempat, Basarnas, serta pemerintah desa di wilayah terdampak banjir.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini