Pontianak (Suara Sanggau) – Perhimpunan Penyuluh Pertanian Indonesia (Perhiptani) Kalimantan Barat menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalbar..jpeg)
Jainal Abidin, Ketua Perhiptani Kalbar.SUARASANGGAU/SK
Salah satu langkah yang dinilai dapat dilakukan adalah mendorong masyarakat menerapkan pengolahan lahan tanpa bakar dalam kegiatan usaha tani. Upaya tersebut diharapkan dapat mengurangi potensi munculnya titik api sekaligus menjaga produktivitas lahan pertanian.
“Salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah dengan terus mempromosikan pengolahan lahan tanpa bakar dalam kegiatan usaha tani masyarakat,” jelas Jainal.
Menurut Jainal, persoalan karhutla di Kalimantan Barat saat ini cukup kompleks. Sumber api tidak hanya berasal dari aktivitas usaha tani masyarakat, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor lain yang dapat memicu terjadinya kebakaran dalam skala besar.
“Kemarau berkepanjangan, banyak lahan menjadi kering dan mudah terbakar, apalagi pada lahan gambut. Tentunya kondisi ini semakin menambah parahnya karhutla saat ini,” ucapnya.
Ia mengatakan, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar telah menjadi bagian dari budaya dan teknik budidaya yang dilakukan masyarakat secara turun-temurun. Karena itu, pendekatan melalui penyuluhan menjadi tantangan tersendiri agar masyarakat secara bertahap dapat beralih ke metode pengolahan lahan tanpa bakar.
Menurutnya, perubahan tersebut tidak harus dilakukan melalui langkah besar. Penyuluh pertanian dapat memberikan pendampingan dengan memperkenalkan metode sederhana yang tetap memungkinkan lahan produktif tanpa harus menggunakan api.
“Banyak upaya yang bisa dilakukan agar lahan bisa produktif secara terus menerus, salah satunya penggunaan bahan organik dan secara pengetahuan penyuluh punya kemampuan untuk mengoptimalkan lahan tanpa harus membakar,” jelasnya.
Jainal menambahkan, pengolahan lahan yang ramah lingkungan dapat dilakukan melalui berbagai metode, di antaranya pengolahan lahan secara minimal tanpa bakar serta pemanfaatan bahan organik yang disesuaikan dengan kondisi dan karakteristik lahan.
Menurutnya, penerapan metode tersebut tidak hanya berkontribusi terhadap pencegahan karhutla, tetapi juga dapat membantu mempertahankan kesuburan tanah dan keberlanjutan produksi pertanian.
“Melalui sinergi antara Perhiptani, pemerintah daerah, dan para petani, diharapkan pengolahan lahan tanpa bakar dapat menjadi solusi jangka panjang dalam mengatasi karhutla di Kalbar, sekaligus mewujudkan sektor pertanian yang lebih maju, modern, mandiri, dan berdaya saing,” tukasnya.
Jainal berharap jejaring penyuluh pertanian di seluruh Kalimantan Barat dapat terus mengambil peran melalui edukasi dan pendampingan kepada petani. Upaya tersebut diharapkan mampu mengurangi sumber asap dan risiko karhutla, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan untuk mendukung peningkatan produksi pertanian di Kalbar.[SK]