RSUD Soedarso Tingkatkan Kesiapsiagaan Hadapi Tren Kenaikan Pneumonia di Tengah Kabut Asap Karhutla

Editor: Admin

Direktur RSUD Soedarso, Hary Agung Tjahyadi saat memperlihatkan Gedung Rawat Inap Anak beberapa waktu lalu.SUARASANGGAU/SK
Pontianak (Suara Sanggau) – RSUD dr. Soedarso Pontianak meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi peningkatan penyakit pernapasan, khususnya pneumonia, seiring memburuknya kualitas udara akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.

Direktur RSUD dr. Soedarso Pontianak, drg. Hary Agung Tjahyadi, mengatakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di rumah sakit rujukan kelas A tersebut masih relatif stabil dalam lima minggu terakhir. Namun, pihak rumah sakit tetap meningkatkan kewaspadaan karena terdapat tren peningkatan kasus pneumonia.

“Kasus ISPA cukup stabil di RSUD dr. Soedarso dalam lima minggu terakhir, tidak ada peningkatan kasus. Meski secara umum di Kalbar tercatat peningkatan kasus ISPA dalam dua minggu terakhir, kami tetap akan meningkatkan kewaspadaan,” ujar Hary, Selasa (11/8/2026).

Berdasarkan pemantauan hingga minggu epidemiologi (ME) 31, kasus pneumonia di RSUD dr. Soedarso meningkat dari 16 kasus pada ME 27 menjadi 29 kasus.

Hary menjelaskan, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena paparan asap karhutla dapat memperburuk kondisi saluran pernapasan. Partikel halus seperti PM2.5 dapat masuk ke saluran pernapasan, memicu iritasi, serta mengganggu mekanisme pertahanan tubuh.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa paparan asap tidak serta-merta menyebabkan pneumonia. Asap lebih berperan meningkatkan kerentanan terhadap gangguan maupun infeksi saluran pernapasan, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan.

“Tim surveilans perlu melakukan analisis secara berkesinambungan dan lebih mendalam untuk memastikan apakah pneumonia berkaitan dengan ISPA sebelumnya, eksaserbasi asma, paparan asap, komorbid, atau etiologi infeksi lain,” jelasnya.

Sebagai langkah antisipasi, RSUD dr. Soedarso memperkuat surveilans epidemiologi klinis sekaligus memastikan kesiapan oksigen, obat-obatan, peralatan medis, serta ruang perawatan.

Pasien dengan keluhan pernapasan yang datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) akan menjalani proses triase untuk menilai kondisi oksigenasi dan menentukan penanganan berdasarkan kondisi klinis masing-masing pasien.

Rumah sakit juga memastikan kesiapan peralatan pendukung, mulai dari bronkodilator, nebulizer, kanul oksigen hingga alat bantu pernapasan seperti ventilator.

“Kami tetap akan meningkatkan kewaspadaan melalui monitoring surveilans epidemiologi klinis RS dan kesiapan terkait ketersediaan oksigen dan obat-obatan apabila terjadi rujukan terhadap infeksi pernapasan yang berlanjut dan pneumonia,” kata Hary.

Kapasitas ruang perawatan paru dan ruang isolasi respirasi juga dipantau secara berkala. Hingga ME 31, RSUD dr. Soedarso belum memerlukan penambahan tempat tidur karena jumlah pasien masih dapat ditangani dengan kapasitas yang tersedia.

“Belum diperlukan penambahan tempat tidur karena kasus masih dapat tertangani dengan baik. Namun, kapasitas perlu dievaluasi secara berkala apabila terjadi peningkatan kasus lebih lanjut,” ujarnya.

Sementara itu, data kasus di Kalimantan Barat hingga ME 31 menunjukkan jumlah ISPA meningkat dari 5.269 menjadi 5.837 kasus. Pada periode yang sama, kasus pneumonia juga mengalami peningkatan dari 202 menjadi 250 kasus.

Menurut Hary, peningkatan tersebut masih perlu dianalisis secara komprehensif. Faktor yang diperhatikan tidak hanya paparan asap karhutla, tetapi juga riwayat ISPA, eksaserbasi asma, penyakit penyerta, serta kemungkinan penyebab infeksi lainnya.

Analisis tersebut dinilai penting untuk memastikan hubungan antara memburuknya kualitas udara dan peningkatan kasus pneumonia berdasarkan data klinis maupun epidemiologis.

Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Kalimantan Barat, RSUD dr. Soedarso lebih banyak menangani pasien yang membutuhkan pelayanan lanjutan. Sementara kasus ISPA ringan umumnya masih dapat ditangani di fasilitas kesehatan tingkat pertama maupun rumah sakit kelas C dan D.

Karena itu, kesiapsiagaan dilakukan sejak tren peningkatan kasus mulai terdeteksi dan tidak menunggu hingga terjadi lonjakan pasien.

“Kami tidak ingin menunggu sampai terjadi lonjakan kasus baru kemudian melakukan persiapan,” tegas Hary.

Dengan penguatan surveilans, kesiapan tenaga medis, ketersediaan oksigen dan obat-obatan, peralatan bantu napas, ruang perawatan hingga pelayanan IGD, RSUD dr. Soedarso memastikan pelayanan kesehatan tetap siap menghadapi kemungkinan peningkatan pneumonia maupun penyakit pernapasan lainnya di tengah memburuknya kualitas udara akibat karhutla.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play