BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla Kalbar di Tengah El Nino Kuat

Editor: Admin

 

Sutikno Koordinator Data dan Informasi dan PTSP BMKG Supadio Pontianak. Kamis (13/8/2026). SUARASANGGAU/SK
Pontianak (Suara Sanggau) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat Kalimantan Barat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peringatan tersebut disampaikan menyusul kondisi El Nino yang saat ini berada dalam kategori kuat dan berpotensi berkembang menjadi sangat kuat.

Koordinator Data dan Informasi (DATIN) serta Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) BMKG Supadio Pontianak, Sutikno, mengatakan kondisi tersebut sebenarnya telah diperkirakan sejak awal 2026 melalui informasi prakiraan musim yang dirilis BMKG.

“Di awal tahun 2026, sekitar Februari, BMKG Kalbar sudah merilis informasi perakiraan musim. Tahun ini kita mengalami fenomena El Nino yang secara internal BMKG masuk kategori kuat, bahkan menjelang sangat kuat,” kata Sutikno saat ditemui, Kamis (13/8/2026).

Menurutnya, fenomena El Nino berdampak terhadap berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Kalimantan Barat. Kondisi ini berkaitan dengan perbedaan suhu muka laut antara kawasan Pasifik dan wilayah Indonesia yang memengaruhi distribusi uap air dan pembentukan awan hujan.

“Pasifik lebih panas dibandingkan wilayah kita. Uap air banyak terjadi di sana, sementara uap air di wilayah kita kecil. Akibatnya, hujan tertarik ke wilayah Pasifik,” jelasnya.

Minimnya curah hujan tersebut mulai terlihat dari meningkatnya jumlah titik panas atau hotspot di sejumlah wilayah Kalbar. Sutikno menjelaskan, hotspot sebenarnya telah terdeteksi sejak Januari 2026, kemudian sempat mengalami penurunan pada Februari sebelum kembali meningkat pada April.

Kenaikan hotspot semakin signifikan ketika Kalimantan Barat memasuki periode kemarau pada Juli. Peningkatan tersebut juga mulai diikuti dengan kejadian karhutla di sejumlah wilayah.

“Ketika masuk Juli, saat memasuki fase kemarau di Kalimantan Barat, kenaikan hotspot sudah mulai sangat signifikan dan diiringi dengan kejadian karhutla,” ujarnya.

Berdasarkan pembaruan data BMKG hingga 13 Agustus 2026, tercatat sekitar 25 ribu hotspot terpantau di Kalimantan Barat sepanjang Agustus. Angka tersebut menunjukkan rata-rata hampir 2.000 hotspot terdeteksi setiap harinya.

Meski demikian, Sutikno menegaskan masyarakat tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa setiap hotspot merupakan kebakaran. Hotspot merupakan titik panas yang terdeteksi oleh satelit dan masih membutuhkan proses verifikasi untuk memastikan apakah benar merupakan titik api atau fire spot.

“Hotspot belum tentu fire spot. Bisa saja panas dari pembakaran sampah, cerobong pabrik dan sumber panas lainnya terdeteksi satelit sebagai hotspot,” katanya.

Dalam membaca data tersebut, BMKG menggunakan tingkat kepercayaan atau confidence level. Hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi menjadi perhatian karena memiliki kemungkinan lebih besar untuk benar-benar menunjukkan adanya titik api.

“Kalau fire spot, tingkat kebenarannya di atas 90 persen. Sementara hotspot secara umum sekitar 70 sampai 80 persen berpotensi seperti itu,” jelas Sutikno.

Dari sisi sebaran wilayah, Kabupaten Ketapang kini menjadi daerah dengan jumlah hotspot paling tinggi di Kalimantan Barat. Kondisi tersebut mengalami perubahan dibandingkan awal tahun, ketika Kabupaten Kubu Raya sempat menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.

Selain Ketapang, sejumlah daerah lain yang turut menjadi perhatian BMKG antara lain Sanggau, Kayong Utara, Landak, Kapuas Hulu, dan Kubu Raya.

Sutikno menyebut kondisi Ketapang perlu mendapat perhatian serius karena wilayah bagian tengah hingga selatan memiliki karakteristik musim yang cenderung lebih kering. Puncak musim kemarau di wilayah tersebut diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September dan berpotensi berlanjut sampai Oktober.

“Untuk Ketapang, puncak kemaraunya memang Agustus sampai September dan masih dapat meluas sampai sekitar Oktober,” ujarnya.

Kondisi kekeringan juga mulai terlihat di sejumlah wilayah Kayong Utara dan Ketapang. Bahkan, beberapa lokasi dilaporkan telah mengalami hari tanpa hujan dalam kurun waktu yang cukup panjang.

“Sekarang di Kayong dan Ketapang sudah ada yang 50 hari tanpa hujan. Itu indikasi yang cukup mengkhawatirkan karena tempat tersebut menjadi sangat mudah terjadi kebakaran,” katanya.

Ancaman karhutla semakin besar karena sebagian wilayah tersebut memiliki lahan gambut yang membutuhkan penanganan khusus. Ketika mengalami kekeringan berkepanjangan, lahan gambut menjadi lebih mudah terbakar dan api dapat menyebar maupun bertahan di bawah permukaan sehingga sulit dipadamkan.

Sementara itu, sebagian wilayah Kalimantan Barat bagian tengah dan utara memiliki pola curah hujan yang relatif lebih merata sepanjang tahun. Kondisi tersebut membuat potensi pemulihan curah hujan di wilayah-wilayah tersebut diperkirakan lebih cepat dibandingkan Kalbar bagian selatan.

“Untuk wilayah Kalbar bagian tengah, Kubu Raya bagian utara sampai Sambas, Sanggau, Landak, Sintang dan sebagian Kapuas Hulu, kita berharap Oktober sudah ada curah hujan. Tetapi khusus Ketapang bagian selatan, curah hujannya sampai Oktober masih sangat minim,” pungkasnya.

BMKG mengimbau masyarakat, pemerintah daerah, perusahaan, serta seluruh pihak terkait untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode kemarau. Aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembukaan dan pembersihan lahan dengan cara membakar, perlu dihindari guna mencegah meluasnya karhutla di tengah kondisi cuaca yang semakin kering.

Kewaspadaan bersama dinilai menjadi kunci untuk menekan risiko karhutla, terlebih kondisi El Nino kuat berpotensi memperpanjang periode kering di sejumlah wilayah Kalimantan Barat.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play