Waspada Deepfake AI, Warga Mempawah Tertipu Video Call Palsu Mengatasnamakan Keluarga di Arab Saudi

Editor: Admin

 

Ali, warga Sungai Kunyit, saat melapor ke Mapolres Mempawah karena tertipu video call AI, Selasa (19/5/2026).SUARASANGGAU/SK
Mempawah (Suara Sanggau) – Modus penipuan berbasis teknologi Artificial Intelligence (AI) kini semakin canggih dan mulai memakan korban di Kabupaten Mempawah. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap aksi penipuan digital yang memanfaatkan manipulasi wajah dan suara atau deepfake AI.

Jika sebelumnya pelaku hanya mengandalkan pesan singkat maupun sambungan telepon biasa, kini teknologi AI memungkinkan penipu menampilkan wajah dan suara seseorang secara sangat mirip sehingga sulit dibedakan dengan aslinya.

Salah satu korban modus tersebut adalah Ali, warga Kecamatan Sungai Kunyit, yang melaporkan kasus yang dialaminya ke Polres Mempawah pada Selasa (19/5/2026).

Peristiwa itu bermula pada Sabtu (16/5/2026) sekitar pukul 14.00 WIB saat Ali menerima panggilan video WhatsApp dari seseorang yang tampak seperti bibinya yang bekerja di Arab Saudi.

Meski kualitas video terlihat buram dan beberapa kali terputus-putus, Ali mengaku wajah dan suara yang muncul sangat mirip dengan bibinya.

“Dalam panggilan video itu, jelas sekali wajah bibi saya. Suaranya juga sama. Ia mengatakan baru saja mentransfer uang Rp17,5 juta ke rekening Bank BRI saya. Bibi lalu meminta uang itu nantinya dikirimkan lagi kepada seorang temannya,” ujar Ali.

Mendengar hal tersebut, Ali sempat ingin mengecek saldo rekeningnya melalui ATM. Namun pelaku yang menyamar sebagai bibinya mengatakan bahwa transfer dari luar negeri biasanya membutuhkan waktu hingga 24 jam untuk masuk ke rekening tujuan.

Tak lama setelah panggilan video berakhir, Ali kembali menerima pesan WhatsApp berisi bukti transfer dari Arab Saudi ke rekening miliknya.

Beberapa jam kemudian, seorang wanita menelepon sambil menangis dan mengaku sebagai teman bibinya. Wanita itu meminta bantuan uang sebesar Rp6 juta dengan alasan biaya pengobatan di rumah sakit.

Pelaku meyakinkan korban bahwa uang tersebut nantinya bisa dipotong dari dana transfer yang disebut telah dikirim bibinya dari Arab Saudi.

Awalnya Ali menolak karena dana transfer belum masuk ke rekeningnya. Namun karena pelaku terus mendesak sambil menangis histeris, Ali dan istrinya akhirnya luluh dan mentransfer Rp3 juta kepada wanita tersebut.

Tak berhenti di situ, beberapa jam kemudian pelaku kembali meminta tambahan uang Rp4 juta dengan alasan untuk membeli kantong darah.

“Saat itu saya dan istri langsung curiga. Lalu saya menghubungi keluarga di Jawa. Setelah mendapatkan nomor asli bibi di Arab Saudi, baru ketahuan kami telah ditipu sindikat penipuan video call menggunakan AI,” ungkapnya.

Ali mengatakan nomor telepon yang digunakan pelaku ternyata berbeda dengan nomor asli bibinya. Bahkan sang bibi mengaku tidak pernah melakukan panggilan video maupun mengirim uang kepadanya.

Merasa dirugikan, Ali akhirnya memutuskan melapor ke pihak kepolisian. Namun ia menegaskan bahwa laporannya bukan semata-mata untuk meminta uangnya kembali.

“Saya melapor bukan ingin uang saya kembali. Tapi supaya dimuat di media massa agar tidak ada lagi masyarakat yang tertipu sindikat AI seperti ini,” pungkasnya.

Kasus ini menjadi peringatan serius bagi masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap berbagai bentuk penipuan digital yang kini memanfaatkan kecanggihan kecerdasan buatan. Warga diimbau selalu melakukan verifikasi langsung kepada keluarga atau kerabat melalui nomor resmi sebelum mentransfer uang, meskipun wajah dan suara yang muncul tampak sangat meyakinkan.[SK]
Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play