![]() |
| Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Barat, Erna Yulianti,SUARASANGGAU/SK |
Data Dinkes Kalbar menunjukkan, Kabupaten Kapuas Hulu menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 181 kasus disertai 1 kasus kematian. Angka tersebut disusul Kabupaten Ketapang sebanyak 157 kasus, Kayong Utara 148 kasus, serta Kabupaten Mempawah dengan 115 kasus dan 1 kematian.
Sementara itu, Kota Singkawang mencatat 87 kasus dan Kota Pontianak sebanyak 68 kasus. Kabupaten Landak menjadi daerah dengan angka kematian tertinggi, yakni 2 kasus dari total 52 kasus yang dilaporkan.
Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Erna Yulianti, mengatakan tren kasus dengue hampir selalu muncul setiap pekan sejak awal tahun 2026. Lonjakan tertinggi terjadi pada minggu kedua dengan 88 kasus, kemudian minggu keenam sebanyak 78 kasus.
“Meski tren dalam beberapa pekan terakhir mulai menurun, laporan kasus baru masih terus ditemukan hingga minggu ke-20,” ujarnya.
Secara bulanan, Januari menjadi periode dengan jumlah kasus tertinggi, yakni 287 kasus. Pada Februari tercatat 248 kasus, Maret 209 kasus, April 167 kasus, dan Mei hingga minggu ke-20 sebanyak 62 kasus.
Erna menjelaskan, kasus kematian akibat DBD masing-masing tercatat satu kasus pada Januari, Februari, April, dan Mei.
Menurutnya, DBD merupakan penyakit infeksi virus akut yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Penyakit ini ditandai dengan demam tinggi selama 2 hingga 7 hari yang dapat disertai perdarahan, penurunan trombosit, kebocoran plasma darah, nyeri otot dan tulang, ruam kulit, hingga rasa nyeri di belakang bola mata.
“Apabila tidak segera ditangani, DBD dapat menyebabkan komplikasi bahkan kematian,” tegasnya.
Tingginya curah hujan di Kalimantan Barat disebut menjadi salah satu faktor utama meningkatnya penyebaran DBD. Kondisi tersebut memicu munculnya banyak genangan air yang menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab dengue. Selain itu, rendahnya kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan juga dinilai mempercepat penularan penyakit.
Untuk menekan angka kasus, Dinkes Kalbar mengimbau masyarakat agar mengintensifkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus dan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J).
Langkah pencegahan tersebut meliputi menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah penyimpanan air, serta mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air hujan.
Masyarakat juga dianjurkan menabur larvasida, menggunakan obat anti-nyamuk, memasang kelambu dan kawat kasa, memelihara ikan pemakan jentik, hingga melakukan pemeriksaan jentik secara berkala minimal satu kali dalam sepekan.
“Fogging tetap dilakukan sebagai langkah penanggulangan apabila terjadi penyebaran kasus secara luas,” pungkasnya.[SK]
