Karhutla Ancam 10 Juta Warga, Kemenkes Siagakan 848 Tenaga Kesehatan

Editor: Admin

 

arak pandang warga di Palangka Raya kurang dari 100 meter akibat kabut asap tebal dari kebakaran hutan dan lahan.SUARASANGGAU/SK
Pontianak (Suara Sanggau) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia mulai memberikan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat. Lebih dari 10 juta warga di tujuh provinsi berpotensi terdampak kabut asap, sehingga Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperkuat kesiapsiagaan layanan kesehatan di wilayah terdampak.

Kemenkes mengerahkan sebanyak 848 tenaga kesehatan untuk mengantisipasi potensi peningkatan gangguan kesehatan akibat paparan asap dan partikulat yang ditimbulkan karhutla.

Berdasarkan situation report Kemenkes yang dirilis Kamis (27/8/2026), karhutla melanda tujuh provinsi, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan.

Dampak kesehatan mulai terlihat di sejumlah daerah. Sebanyak 123 warga dilaporkan harus menjalani rawat inap akibat luka berat, sementara kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif mencapai 13.449 kasus yang tersebar di 63 kabupaten/kota.

Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah juga telah berada pada kategori sangat tidak sehat hingga berbahaya.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan, karhutla tidak lagi dapat dipandang semata-mata sebagai persoalan lingkungan. Paparan asap dan partikulat dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan sehingga perlindungan terhadap masyarakat harus menjadi perhatian utama.

“Karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga dapat menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, terutama akibat paparan asap dan partikulat. Karena itu, kita perlu memastikan masyarakat terlindungi dan pelayanan kesehatan tetap siap,” tegas Dante dalam media briefing di Kantor Kemenkes, Jakarta, Sabtu (29/8/2026).

Pontianak, Kalimantan Barat, menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian menyusul kondisi kualitas udara yang mengkhawatirkan. Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di wilayah tersebut tercatat mencapai 328.

Sejumlah daerah lain juga mencatat angka ISPU tinggi. Kabupaten Tebo, Jambi, berada pada angka 287, disusul Barito Selatan 274, Katingan 258, dan Kabupaten Pali 255.

Melihat kondisi tersebut, Dante meminta perlindungan terhadap kelompok masyarakat yang memiliki risiko lebih tinggi menjadi prioritas selama kabut asap masih berlangsung.

“Kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus meliputi anak-anak, lansia, ibu hamil, penderita asma atau PPOK, serta pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan,” ujarnya.

Kelompok rentan tersebut diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk dan mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dari sumber resmi.

Untuk mengantisipasi peningkatan kasus kesehatan akibat paparan asap, Kemenkes menyiagakan 1.691 puskesmas, 360 rumah sakit rujukan, dan 87 Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas).

Kesiapan pelayanan juga diperkuat melalui Public Safety Center (PSC) 119 di daerah. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah turut mengerahkan berbagai logistik kesehatan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah yang terdampak.

Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes telah menyalurkan 432.000 masker, 169 unit oksigen konsentrator, 40.000 pasang sarung tangan medis, 4.900 alat pelindung diri (APD), serta tiga unit air purifier ke sejumlah daerah.

Dukungan pemerintah daerah juga terus bergerak melalui distribusi masker, oksigen konsentrator, tabung Oxycan, hingga pemberian makanan tambahan (PMT).

Di tengah kondisi kualitas udara yang belum sepenuhnya membaik, masyarakat diimbau rutin memantau kualitas udara sebelum melakukan aktivitas, terutama kegiatan di luar ruangan.

Warga yang terpaksa beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker dan pelindung mata. Masyarakat juga perlu menjaga asupan cairan dan kondisi tubuh selama terpapar udara yang tercemar.

Jika mengalami keluhan kesehatan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata atau tenggorokan, maupun gangguan pernapasan lainnya yang diduga berkaitan dengan paparan asap, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis.

Kesiapsiagaan pemerintah dan kewaspadaan masyarakat dinilai menjadi bagian penting dalam menekan risiko kesehatan selama karhutla dan kabut asap masih mengancam sejumlah wilayah Indonesia.[SK]

Share:
Komentar

Berita Terkini

 
Play